Idul Fitri : Sebuah Adat Kebiasaan

Mudik, makan opor bersama keluarga, baju baru, bagi-bagi THR, petasan di malam takbiran adalah sebagian acara-acara wajib yang selalu mengisi tiap hari besar ini. Tanpa kita tahu apa sebenarnya hakikat dibalik hari yang sering kita sebut Lebaran ini, kita menjalaninya dengan penuh suka cita dan terlarut di dalamnya.

Mungkin judul yang aku ambil seakan bermakna sepihak dan tidak memberi kesempatan kepada pembaca untuk mengatakan: “Idul Fitri itu mempunyai makna penting dari sekedar sebuah adat kebiasaan..!”. Namun pada kenyataannya jarang sekali diantara kita yang mengetahui apa arti sebenarnya dibalik Idul Fitri ini, dan apa saja hal terpenting atau hikmah yang kita ambil dari Idul Fitri ini.

Karena makna integral dari Idul Fitri itu sendiri ada pada hari-hari dan bulan sebelumnya, yaitu pada bulan Ramadhan. Seperti kata pepatah: “Hasil itu hanya 1% dari 99% rangkaian proses dalam sebuah pencapaian”. Artinya tidaklah penting suatu hasil, yang paling penting adalah bagaimana kita menjalani proses untuk mencapai hasil tersebut.

Sesungguhnya siapa yang menjalani puasa dengan penuh kesungguhan atau kesabaran yang sebenarnya, maka dengan otomatis akan mencapai hakikat dari Idul Fitri itu sendiri. Rasulullah bersabda : “Barang siapa yang melaksanakan ibadah shaum selama satu bulan dengan penuh keimanan kepada Allah SWT maka apabila ia memasuki Idul Fithri ia akan kembali menjadi Fithrah seperti bayi (Tiflul) dalam rahim ibunya” (HR. Bukhari). Sangatlah jelas yang disabdakan oleh Rasulullah disini, bahwa orang yang akan kembali menjadi Fitrah seperti bayi adalah orang yang menjalani shaum dengan “penuh keimanan” kepada Allah swt, sedangkan keimanan itu lahir dari pemahaman, maka apakah kita termasuk orang yang paham apa hakikat dari shaum ini..? Semoga kita semua termasuk orang yang paham betul terhadap makna dan hakikat dibalik shaum tersebut.

Sungguh, kita tidak ingin melewati hari Idul Fitri ini dengan penuh kehampaan akan makna, namun tentunya yang kita inginkan adalah hari raya yang penuh pelajaran dan hikmah. Namun hal tersebut tentunya tidak akan kita capai manakala kita hanya mementingkan baju baru atau pun opor ayam belaka, pastilah kita harus mengerti apa arti Idul Fitri ini.

Pengertian Idul Fitri Secara Etimologi

Ternyata arti idul Fitri secara bahasa tidak terlalu sesuai dengan pengertian yang selama ini kita ketahui. Mayoritas umat Islam mengartikan Idul Fithri dengan arti “kembali menjadi suci “, pendapat ini sangatlah beralasan karena didasari oleh sebuah hadits Rasullullah SAW seperti yang telah ditulis di atas yaitu :

“Barang siapa yang melaksanakan ibadah shaum selama satu bulan dengan penuh keimanan kepada Allah SWT maka apabila ia memasuki Idul Fithri ia akan kembali menjadi Fithrah seperti bayi (Tiflul) dalam rahim ibunya “ (HR Bukhari )

Kalau ditilik kembali, pendapat yang mengartikan idul Fithri dengan “kembali menjadi suci” tidak sepenuhnya benar, karena kata “Fithri” apabila diartikan dengan “Suci” tidaklah tepat. Sebab kata “Suci” dalam bahasa Arabnya adalah “Al Qudus” atau “Subhana”. Oleh karena itu, menurut penulis istilah Idul Fithri dapat ditelusuri minimal dalam tiga pengertian yaitu sebagai berikut:

Untuk memperoleh pengertian itu kita bisa memulainya dengan melihat makna asal ungkapan Arab id al-fithr. Kata id berasal dari akar kata yang sama dengan kata `awdah atau `awdat-un, `adab atau adat-un dan isti’adat-un. Semua kata-kata itu mengandung makna asal “kembali” atau “terulang” (perkataan Indonesia “adat-istiadat” adalah pinjaman dari bahasa Arab `adat-un wa isti ‘adat-un yang berarti sesuatu yang selalu akan terulang dan diharapkan akan terus terulang, yakni, sebagai “adat kebiasaan”). Dan hari raya diistilahkan sebagai id karena ia datang kembali berulang-ulang secara periodik dalam daur waktu satu tahun.

Makna asal kata-kata “fithri” kiranya sudah jelas, karena satu akar dengan kata “fitrah” (fithrah), yang artinya “Pencipta” atau “Ciptaan”. Secara kebahasaan, fithrah mempunyai pengertian yang sama dengan khilqah, yaitu “ciptaan” atau “penciptaan”. Tuhan Yang Maha Pencipta disebut dengan A-Khaliq, atau Al-Fathir. Sebagai contoh, misalnya kita lihat dalam Al Qur’an :

” Segala puji bagi Allah Pencipta langit dan bumi”. (QS Al Fathir 35 : 1)

Berdasarkan uraian diatas maka penulis menyimpulkan bahwa kata “Idul Fithri” mempunyai minimal tiga pengertian yaitu :

  1. Kembali ke Awal Penciptaan.
  2. Kembali ke Penciptaan Yang Awal.
  3. Kembali ke Sang Maha Pencipta.

Adapun yang berpendapat bahwa kata ‘fitri’ pada ‘Iedul Fitri’ bukan berasal dari ‘FITHROH’ tetapi dari kata ‘FITHR’ (fathoro-yafthuru-ifthor) yang artinya ‘berbuka’. Jadi frasa ‘Idul fitri’ artinya ‘kembali berbuka’. Maksudnya, kembali seorang yang tadinya berpuasa diperbolehkan melakukan makan-minum di pagi hari pada tanggal 1 Syawal tersebut atau tanda bhwa bln ramadhan telahh berakhir.

Namun begitu kita tidak bisa menafikan pengertian yang pertama, bahwa pada hari Idul Fitri ini kita berkesempatan menebus segala dosa. Semoga kita memahami makna Idul Fitri ini secara luas dengan segala hikmah dan integritas yang terkandung di dalamnya, bukan hanya sekedar melewati hari Idul Fitri dengan begitu saja lalu secara tidak sadar memperlakukan hari besar itu seperti sekedar adat kebiasaan belaka, yang sebenarnya memiliki banyak makna dan hikmah didalamnya.

Hal terpenting yang harus disadari adalah bahwa pada hari Idul Fitri itu sepatutnya dijadikan waktu bagi kita berintrospeksi diri terhadap shaum yang dianggap sebagai ujian terhadap ketakwaan kita kepada Allah swt, yang telah kita lalui pada bulan sebelumnya. Apakah pada hari Idul Fitri ini kita sudah mencapai satu derajat ketakwaan?

_______________________________________

3 gagasan untuk “Idul Fitri : Sebuah Adat Kebiasaan

  1. modern LASIK equipment and technology utilizing the IntraLase Method™ along with the Wavelight laser; high safety standards and high quality of care; scientific analysis and results optimization to supply the ideal vision attainable for your eyes.

  2. kembali kepada kesucian (Idul fitri) itu bukan hasil dari puasa, tapi justru langkah awal kita menuju kefitrian diri dengan menjadi manfaat bagi diri dan orang lain, setelah satu bulan berlatih menaklukan angkara murka yang ada dalam jiwa.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s