Teka-Teki Tidak Terjawab

Dr. Andrew Conway Ivy mengatakan, “Boleh saja orang menyangkal adanya Tuhan dengan mulutnya, sebab lidah tidak bertulang. Tetapi para Atheis semacam Karl Marx dan Engels tidak pernah memiliki bukti yang rasional untuk mendukung pengingkaran mereka terhadap wujud tuhan. Selama ini, bukti-bukti yang dapat ditemui justru menguatkan keyakinan tentang ada dan berkuasanya Tuhan secara mutlak”.

Karl Marx anak seorang rahib Yahudi yang kemudian jadi pendeta itu, terkenal sebagai pemuka kaum Atheis, yang sepanjang hidupnya dipenuhi dengan usaha menghapus Tuhan dari kehidupan umat manusia. Namun dalam keadaan sekarat menjelang kematiannya, dengan wajah ketakutan, ia menjerit-jerit sambil menyebut-nyebut nama Tuhan.

Seorang anak balita bertanya kepada bapaknya, “Pak, lebih dulu mana ayam dibandingkan telur?”

Tanpa berfikir bapaknya menjawab pertanyaan yang mudah itu, “Ayam kan datangnya dari telur. Tentu saja lebih dulu telur daripada ayam.”

“Telurnya darimana pak?”

“Dari ayam.”

“Jadi, lebih dulu mana ayam daripada telur?”

“Iya ya. Lebih dulu ayam kalau begitu.”

“Ayamnya darimana?”

“Dari telur.”

“Jadi?”

Jika diusut terus menerus, berlembar-lembar halaman buku pun tidak akan dapat memberikan jawaban yang memuaskan. Tetapi dengan iman kepada Tuhan, jawaban tersebut dapat langsung dipungkasi kepada Tuhan, sebagai asal dari segala kejadian.

Seorang kiyai yang baru saja menceritakan perihal keadaan neraka dan surga kepada sejumlah jemaah pendengarnya, ditanya oleh seorang pemuda bermata beringas.

“Kiyai. Boleh saya bertanya?”

“Silakan,” jawab Kiyai.

“Dari tadi kiyai bercerita begitu terang benderang mengenai surga dan neraka, apakah Kiyai sudah pernah kesana?”

Meskipun perih, dengan ramah kiyai itu menjawab sejujurnya, “Belum. Saya belum pernah kesana.”

Laki-laki muda itu lantas mengomel, “Belum pernah kesana, ceritanya seperti sudah pernah kesana?”

Kiyai tetap bersikap ramah walaupun hatinya amat mendongkol. Dengan lembut kiyai bertanya, “bagaimana dengan saudara?”

“Maksud kiyai?”

“Saudara percaya atau tidak, akan adanya surga dan neraka?”

Dengan sombong laki-laki muda itu menyahut, “Tidak! Saya tidak percaya. Di sana tidak ada apa-apa. Tidak ada surga. Tidak ada neraka. Manusia kalau sudah mati habis perkara. Tidak ada apa-apa lagi.”

Kiyai kemudian bertanya, “Saudara yakin bahwa disana tidak ada surga dan tidak ada neraka?”

“Yakin betul.”

“Saudara yakin betul di sana tidak ada surga dan neraka, apakah saudara pernah kesana?”

“Belum.” Jawab anak muda itu terlengak.

“Belum pernah kesana, seolah-olah pernah kesana.”

Akhirnya laki-laki muda itu mengakui kekeliruan dan kesesatannya. Karena memang demikian kenyataanya.

Yang percaya bahwa di sana ada alam keabadian dengan surga dan nerakanya, belum pernah kesana. Yang percaya di sana tidak ada apa-apa, juga belum pernah kesana.

Bukankah jika direnungkan, lebih baik percaya daripada tidak percaya?

Penulis, K.H. Abdurrahman Arroisi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s