Umat Rasul Itu.. Dimanakah?

Telah lebih dari satu abad gerakan-gerakan “radikal-kiri” membumikan system liberalisme, komunisme, sosialisme dan kapitalisme dengan begitu hebatnya, yang kemudian melahirkan Negara-negara sekular yang terjajah di bawah cengkraman hegemoni negara imperialis barat. Selama itu pula umat islam di dunia berada di tengah-tengah system yang zalim yang selalu menindas sedemikian parah hingga menyakitkan. Kondisi umat Islam di Indonesia dan dunia saat ini seperti domba yang lemah tak berdaya di tengah-tengah kawanan serigala. Ironisnya sebuah negara berwarnakan Islam di timur tengah yang notebanenya sebagai pusat peribadatan semua umat Islam (dengan Mekahnya) di dunia selalu berpangku tangan melihat penindasan saudaranya sendiri! Apakah karena mereka telah berjabat tangan dengan negara adi kuasa sang Predator dunia?!

Selama masa orde lama, orde baru hingga masa reformasi saat ini para penyembah thaghut selalu berusaha menghapus dan memadamkan cahaya Allah dari muka bumi. Semua kejadian berdarah tentang pembantaian dan penindasan umat Islam di Indonesia seperti di Aceh, Lampung, Ambon, Poso, Tanjung Priok dan di dunia seperti yang mencuat baru-baru ini di Palestina (walau sebenarnya sudah lama terjadi) tidak sedikitpun menjadi pelajaran bagi umat Islam saat ini terhadap pentingnya sikap persatuan untuk tidak lagi berpecah belah melalui perjuangan yang bersifat asobiah tanpa kepastian dan akhir perjuangan yang jelas.

Pada kondisi saat ini, dimana ideologi radikal bangkit melalui berbagai partai-partai sekular dan corong-corong media masa yang mereka miliki, bukankah yang diharapkan adalah bagaiamana caranya mengubah ideologi politik Negara dengan ideologi Negara Islam? Bukan bagaimana caranya membuat justifikasi atas organisasinya agar banyak mendapat dukungan publik. –yang pada dasarnya masih dipertanyakan kebenarannya- Semua golongan pun selalu merasa benar –walaupun kebanyakan harokah yang mereka sebut dengan ahlussunah waljamaah itu berdiri atas legitimasi thaghut dan bergerak di bawah pemerintahannya-, padahal itulah yang membuat Islam berpecah belah. Setiap golongan menyerukan untuk bersatu.. bersatu dan bergabung dengan golongannya masing-masing. Apa sebenarnya yang ingin dicapai?

Allah telah mengabarkan tentang hal ini dalam al-Quran dengan firmannya :

ayat ke-1

Manusia itu adalah umat yang satu. (setelah timbul perselisihan), Maka Allah mengutus Para Nabi, sebagai pemberi peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka kitab yang benar, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan. tidaklah berselisih tentang kitab itu melainkan orang yang telah didatangkan kepada mereka Kitab, Yaitu setelah datang kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, karena dengki antara mereka sendiri. Maka Allah memberi petunjuk orang-orang yang beriman kepada kebenaran tentang hal yang mereka perselisihkann itu dengan kehendak-Nya. dan Allah selalu memberi petunjuk orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus. (QS. Al-Baqarah : 213)

Pikiranku selalu dipenuhi Tanya yang tak pernah berujung.. Tidak adakah ahlussunah wal jamaah di Indonesia ini? Tidak adakah satu harokah yang memperjuangkan tegaknya din Islam ini dengan benar.. napak tilas seperti Rosul yang sistematis dan terencana (ala manhaj nubuwah)…? Dari permulaan dakwah dengan siriyatudakwah dan dhahiriyatuddakwah-nya Yang lalu membangun Negara Madinah dengan kaum Anshar dan Muhajirinnya..? lalu Allah pun mengakui dan meridhai harokah itu??

Adapun yang terjadi saat ini adalah sebuah harokah yang mengaku ahlussunah wal jamaah padahal telah melanggar prinsip kejamaahan dan keluar dari Quran dan Sunnah itu sendiri. Tidak ada garis furqan yang menjadi pemisah anatara Haq dan Bathil.. tidak ada pemisah antara lembaga Mulkiah Allah dan lembaga thaghut. Yang bergerak secara parlementer di bawah cengkraman kekuasaan thaghut. Bagaimana Islam ini akan tegak? Jika diibaratkan sebuah pohon yang berada di halaman rumah, akan berbeda dengan pohon yang berada di hutan (berdiri sendiri), pohon yang berada di halaman rumah itu akan senantiasa di pangkas tunas-tunasnya jika terasa akan mengganggu bangunan oleh sang pemilik rumah. Alih-alih menganggap musuh Allah, padahal secara tidak terasa telah duduk bersama –dengan musuh Allah itu– dalam sebuah pemerintahan.. lalu tunduk terhadap kebijakan pemerintah yang ada. Alih-alih menegakan Quran dan Sunnah, padahal Quran dan Sunnah itu di tempatkan dibelakang dan di injak-injak. Naudzubillah…

ayat ke-2

Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya Kami berlepas diri daripada kamu dari daripada apa yang kamu sembah selain Allah, Kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara Kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja. kecuali Perkataan Ibrahim kepada bapaknya: “Sesungguhnya aku akan memohonkan ampunan bagi kamu dan aku tiada dapat menolak sesuatupun dari kamu (siksaan) Allah”. (Ibrahim berkata): “Ya Tuhan Kami hanya kepada Engkaulah Kami bertawakkal dan hanya kepada Engkaulah Kami bertaubat dan hanya kepada Engkaulah Kami kembali.” (QS. A-Mumtahanah : 4)

ayat ke-3

Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); Sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. karena itu Barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, Maka Sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang Amat kuat yang tidak akan putus. dan Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui. (QS. Al-Baqarah : 256)

Sejenak aku termenung dan meluangkan sedikit tempat untuk logika, dalam memikirkan hal ini. Dulu ketika Rasul ditawari kepemimpinan oleh para pemuka Quraisy kenapa beliau menolak? Padahal jika pada saat itu Rasul menerima dan menjadi pemimpin dan hal tersebut dijadikan ‘siasah’, maka dengan kekuasan beliau akan dengan mudah merubah system hubalisme itu dengan system Allah dan agar masyarakat Quraisy menyembah Allah saja. Namun ternyata sunnatullah bicara, dan itulah ‘prinsip’. Bahwa selalu ada garis furqan anatar al-Haq dan al-bathil, dengan al-Quran sebagai garis furqan itu. Dan sekarang ternyata terbukti, salah seorang ulama besar di Indonesia yang berjuang menegakan Islam –melalui jalan kepartaian- hingga pernah duduk dalam jajaran tertinggi di pemerintahan tetap tidak bisa merubah apapun, walaupun –setidak-tidaknya- sedikit memberi warna Islam dalam pemerintahannya.

Apakah ketika mendirikan dan merintis sebuah harokah di Indonesia ini tidak ada sebelumnya harokah (assabikul wal awwalun) yang telah mendirikan Negara Madinah? Yang telah mengawali masa bitsah risalah –dengan ditandai sikap ‘hijrah’ prinsip harokah ahlussunnah wal jama’ah ala manhaj annubuwwah– setelah masa fatrahnya yang panjang? Yang tidak mudah dibujuk –walau dengan kekuasaan— dan tidak mudah dikalahkan. Walaupun sebagaimana hebatnya para penyembah thaghut melancarkan serangan dalam rangka menutup cahaya Allah, hal tersebut hanya sia-sia saja.. karena cahaya Allah akan senantiasa berpijar dan pada saatnya akan mendhohirkan Mulkiah-Nya sebagai kerajaan dan system Allah yang mengatur umat manusia di bumi… amin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s