Bagaimana Anda Mengenal Sebuah Kebenaran?

Kadang, kita memandang sebuah kebenaran itu secara sepihak. Kadang, kekeliruan seorang tua akan lebih didengar daripada kebenaran dari seorang anak kecil. Lalu kita menjadikan subjek itu sebagai tolok ukur dalam menimbang sebuah kebenaran.  Padahal apalah artinya sebuah kemasan..?

Dulu pada masa Rosulullah berdakwah, beliau disebut sebagai orang gila oleh masyarakat musyrikin Mekah dan dipandang sebagai pemberontak yang akan menggulingkan kekuasaan Qurasiy –pemerintahan yang sah saat itu. Marilah sejenak kita dinginkan kepala dan jernihkan fikiran, lalu cobalah kirimkan khayalan kita kepada masa-masa itu.. bayangkan kita seolah benar-benar menyatu dengan sejarang masa lampau.. yaitu masa ketika Rasul difitnah dan diasingkan oleh masyarakatnya. Bayangkanlah kita menjadi seorang penduduk Mekah yang tidak tahu siapa Rasulullah itu.. tapi kita sebagai masyarakat biasa yang hanya mengetahui sosok Muhammad bin Abdillah.

Pada saat itu kita mendengar kabar dari tetangga dan karib kerabat bahwa ada seorang yaitu Muhammad bin Abdillah yang membawa agama baru, yang sesat! Kabar itu menjadi kabar besar yang mengguncangkan masyarakat mekah dan sekitarnya. Berita itu tersebar dari mulut ke mulut, dan kita mendengar berita itu menjadi bahan pembicaraan di pasar, di jalan, dan bahkan di tempat-tempat ibadah. Bahkan pemerintahpun mengecam Muhammad dan orang-orang yang bersamanya itu. Lalu pada saat itu, bagaimana kita menimbang sebuah berita bahwa berita itu sebuah kabar kebenaran atau kebohongan belaka? Kenyataan bahwa pada saat itu Rasul menjadi objek fitnah itu adalah fakta sejarah yang tidak bisa dipungkiri. Rasulullah saw disebut majnun, pemberontak, pembawa ajaran sesat dan seterusnya, padahal tiada lain beliau ingin mengajak mereka –para kaum musyrikin mekah—kepada Allah, mengajak dari kegelapan kepada terang benderang, dari tidak tahu kepada tahu.

Dalam hal ini saya bukan ingin mengajak pembaca  mempertanyakan eksistensi Rasul, tapi hal ini akan menjadi pemikiran tersendiri tentang bagaimana mempercayai sebuah kebenaran. Karena kita bukan akan mengimani Islam ini secara membabi buta (fanatik percaya) karena orang tua kita juga seorang muslim, kita bukan akan menjadikan Islam ini sebagai pelampiasan emosi atas kesedihan yang kita alami, atau bahkan –untuk beberapa ilmuan peneliti– menjadikan Islam ini sebagai “objek studi” yang mempunyai sikap netral, tapi kita dituntut mengenal dan meyakini kebenaran Islam ini dari isi dan inti secara menyuluruh, bukan tahu cangkangnya saja dan dengan pengertian yang dangkal.

Apakah ketika kita melihat kenyataan pada saat ini bahwa Islam ini adalah agama militan yang identik dengan penjulukan “TERORIS-nya” lalu semena-mena kita akan memicingkan mata terhadapnya? Dan sekonyong-konyong kita meninggalkan nilai-nilai kebenaran yang terkandung didalamnya? Adalah sudah menjadi ketetapan-Nya –sunnatullah—bahwa Islam itu selalu terasing dan akan kembali kepada keterasingan.. dan terfitnah.

Saat ini khususnya dikota-kota besar sangat banyak sekali pemikiran-pemikiran keliru yang menyimpang tentang nilai-nilai Islam yang sebenarnya. Ada pemikiran bahwa al-Qur’an pada jaman ini adalah al-Qur’an yang telah banyak mengalami perubahan isi –padahal Allah telah menjamin kemurnian isinya, lalu pemikiran tentang halalnya tidak sholat, kekeliruan tentang hukum fa’i, bahkan pemikiran yang bisa menggeserkan eksistensi Rosul sendiri. Subhanallah.. kadang saya tidak mengerti dari mana penyimpangan-penyimpangan ini terjadi, dan hal tersebut hanyalah sebagian contoh kecil saja! Tapi hal ini akan menjadi pelajaran tersendiri tentang ‘bagaimana cara kita memandang sebuah kebenaran itu’. Karena ketika kita dihadapkan dengan pemikiran-pemikiran baru yang sesat seeperti yang diungkapkan di atas, maka akan terlihat pentingnya kita mengenal sebuah kebenaran dengan akal logika dan dari segi keilmuannya, sehingga mempunyai keimanan yang kuat dan teguh. Karena bukankah yang melatar belakangi “iman” itu sendiri adalah dari berfikir –seperti pencarian Nabi Ibrahim kepada Allah, bukan dari perasaan dan perasangka saja.

Dalam ilmu usuluddin disebutkan bahwa keimanan itu harus berdasarkan dalil-dalil yang dapat diterima oleh fikiran manusia, atau selaras dengan tingkat fikirannya itu. Dalil-dalil ini hanya sebagai hujjah atau alasan untuk memberantas segala keraguan dan was-was. Sedang yang dimaksud dalil tersebut adalah kebenaran dan keteguhan keyakinan (iman), bukan hanya sekedar tahu atau hafal segala dalil atau alasan. Jika akal seseorang tidak dapat mencapai kebenaran, maka bukan karena kebenaran yang itu tidak ada, tetapi kekuatan otak itu sendiri yang terbatas atau salah jalan. Sedang manusia harus dapat berpegang kepada kebenaran itu juga.

Untuk menentukan bahwa sesuatu itu benar, dan boleh dipercaya, perlu adanya bukti-bukti (dalil) yang sah, yang dapat menegakkan keyakinan, dan keraguan. Karena bertingkat-tingkatnya fikiran manusia dari segala lapisan, maka dalil-dalil itu dapat dibagi menjadi dua,

  1. Dalil Naqly, ialah tanda bukti yang telah tertera di dalam Al-Qur’an dan Hadits yang mutawatir.
  2. Dalil ‘Aqly, ialah dalil dari pertimbangan fikiran yang sehat (objektif), yang tidak dipengaruhi oleh keinginan dan kebencian.. 1)

Allah swt telah memberi manusia itu sebuah pedoman untuk mengenal sebuah kebenaran berupa cahaya atau obor yaitu Al-Qur’an dan As-Sunnah. Adapun akal sebagai unsur utama sebagai penimbang kebenaran tersebut Allah pun telah memberi manusia modal dasar, seperti yang telah difirmankan Allah swt dalam Al-Qur’an,

ayat_1

Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalamnya roh (ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur. (QS. As-Sajdah, 32:9)

Potensi dasar ini (fitrah) berfungsi sebagai dalil ‘Aqli untuk menimbang sebuah kebenaran atau jalan yang telah ditunjukan oleh sebuah pedoman yang telah ada (Al-Qur’an Sunnah sebagai dalil Naqly).

Disadari atau tidak dijaman modern seperti saat ini, dimana nilai-nilai kebenaran telah terkikis dan norma-norma kebaikan ditinggalkan, kita akan dihadapkan dengan ideologi-ideologi baru –tentang Islam– yang menyesatkan. Jika kita tetap menutup diri atas kebenaran Islam yang sesungguhnya sehingga kita tidak mempunyai keyakinan yang kuat berdasarkan dalil, maka dikhawatirkan kita tidak akan sanggup bersabar menahan hujah-hujah orang kafir dalam menyesatkan kita, lalu kitapun terjebak terhadapnya..naudzubillah. Kita tidak akan mengenal kebenaran jika kita tidak mengenal kejahatan.. kita tidak akan pernah mengenal Islam yang sesungguhnya jika kita tidak mengenal ke-Jahiliyah-an.

Dalam tulisan ini saya bukan berarti tidak objektif karena memberi keterangan-keterangan yang lebih cenderung menerangkan bahwa kebenaran itu adalah Islam, tapi lebih karena hal ini adalah sebuah refleksi dari identitas saya bahwa saya bukan seorang peneliti yang tidak berpihak, tapi saya adalah seorang Muslim yang meyakini bahwa “tiada Tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah Rasulnya”.

_____________________

  1. Tentang hal ini saya ambil dari sebuah buku kecil tentang “Ilmu Usuluddin”, karena mengingat perlunya memperlajari tentang ilmu usuluddin ini untuk mengenal pokok-pokok pengajaran agama secara objektif. Rasanya tidak terpaku terhadap sebuah buku mungkin sekarang banyak sekali pengarang-pengarang buku usuluddin ini, yang pada dasarnya akan menulis intisari yang sama, dalam hal ini saya mengambil refrensi dari sebuah buku karangan KH. I. ZARKASY, Usuluddin (‘Aqa’id) ‘Ala Madzhab Ahli-s-sunnah Wa-l-Jama’ah penerbit : TRIMURTI, Gontor.

One thought on “Bagaimana Anda Mengenal Sebuah Kebenaran?

  1. segala kebenaran kan bersumber dari Qur’an dan Hadist semata…🙂

    ___________________
    Fahm : yup.. ukhtie bnr sekali, itulah yang saya sebut dg dalil Naqli.. ^_*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s