Ketidakadilan Hukum Produk “Hawahu”

Sekecil-kecilnya suatu tatanan dan seprimitifnya suatu kaum, manusia tidak akan lepas dari sebuah sistem yang mengikat didalamnya. Terlepas hal itu dibuat secara sengaja atau tidak, tertulis atau tidak dan disepakati atau tidak.

Sebagai contoh dari segi kuantitatif, adalah dalam sebuah tatanan terkecil yaitu keluarga, terdapat hukum dan peraturan-peraturan yang tersirat didalamnya. Walau tidak mengikat secara hukum yang tertulis dan disepakati, tetapi mengikat secara moral, yang harus dipatuhi oleh anggota keluarga sebagai rakyatnya. Seperti larangan sang ayah (yang notabenenya sebagai kepala dalam keluarga) melarang anaknya untuk tidak sering keluar dimalam hari, atau ketika menyuruh si anak itu untuk selalu belajar atau ketika memberi tugas kepada sang istri sebagai pengatur keuangan untuk mengatur keuangan keluarga dengan bijak.

Dalam contoh lain dari segi peradaban, begitu pula halnya yang terjadi dengan sebuah kaum seprimitif suku baduy (Orang Kanekes) , mereka mempunyai hukum adat istiadat yang telah di tetapkan sang Pu’un (Kepala Adat), dan mereka selalu berpegang teguh kepada seluruh ketentuan maupun aturan-aturan yang telah ditetapkannya.

Tetapi manusia selalu cenderung kepada perasaan yang didominasi hawa nafsu (hawahu), hal ini mengakibatkan lahirnya ketidakadilan dalam menetapkan sebuah keputusan, lebih jauh dalam membuat suatu hukum. Karena seperti kita semua sudah tahu bahwa hanya Allah lah yang maha Adil dan maha Bijaksana, oleh karena itu semua tatanan dalam kehidupan manusia haruslah dikembalikan kepada kepemimpinan yang diajarkan-Nya, yaitu sebuah sistem khilafah yang mengembalikan segala persoalan mencakup seluruh aspek kehidupan kepada Al-Quran dan As-Sunnah yang telah menjadi ketetapannya. Itulah wujud keadilan Allah di muka bumi.

ayat_1

Tidakkah kamu memperhatikan orang-orang yang telah diberi bahagian Yaitu Al kitab (Taurat), mereka diseru kepada kitab Allah supaya kitab itu menetapkan hukum diantara mereka; kemudian sebahagian dari mereka berpaling, dan mereka selalu membelakangi (kebenaran). (QS. Ali-Imran, 3:23)

ayat_2

Katakanlah: “Sesungguhnya aku berada di atas hujjah yang nyata (Al Quran) dari Tuhanku[479], sedang kamu mendustakannya. tidak ada padaku apa (azab) yang kamu minta supaya disegerakan kedatangannya. menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah. Dia menerangkan yang sebenarnya dan Dia pemberi keputusan yang paling baik“. (QS. Al-An’am, 6:57)

Di jaman modern seperti saat ini, dimana peradaban semakin maju dan konsolidasi politik, sosial maupun ekonomi antar negara di dunia semakin menunjukan dominasinya (era globalisasi), kebanyakan manusia makin menjauh dan tetap pada pendiriannya yang menolak pengajaran-pengajaran Tuhannya. Tenggelam dalam kemilaunya dunia –harta dan kekuasaan– dan melupakan Sang Pencipta, lalu dengan segala daya upaya yang dimiliki, mereka senantiasa berusaha mempertahankan ideologi dan nafsunya itu.

Penguasa yang dzalim selalu menimbulkan ketidakadilan yang dampaknya dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat. Kemungkaran sudah menjadi wataknya yang tidak bisa terpisahkan; kedzaliman, penindasan, hukum yang dijual-belikan, perzinahan, perjudian, dan khamar. Namun yang paling menyedihkan, kebanyakan masyarakat sendiri memandang kejahiliyahan tersebut hal yang biasa saja. Masyarakat akan lebih mencurigai dan menggunjingkan sekumpulan wanita-wanita berjilbab yang berkumpul dan membaca Al-Quran dari pada memperhatikan sekumpulan anak muda yang berzinah!

Di sisi lain, pemerintah ini selalu mengumbar janji-janji manis untuk menarik simpati rakyat. Dan sesekali mereka mengklaim dirinya sebagai yang terbaik, yang paling mampu mengurus Negara dan rakyatnya. Padahal dalam pandangan Islam, tidak akan ada seseorang menginginkan suatu kekuasaan kecuali ada maksud dan tujuan lain selain untuk memikul amanah tersebut. Hal ini juga dinyatakan dalam al-Qur’an bahwa kecenderungan seseorang menganggap dirinya paling baik –ana khairu minhu– adalah sifat-sifat dan karakter iblis.

ayat_3

Iblis berkata: “Aku lebih baik daripadanya, karena Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan Dia Engkau ciptakan dari tanah”. (QS. Shad, 38:76)

Saat itu Allah menciptakan manusia (adam) dan mengangkatnya sebagai khalifah pertama, lalu Dia memerintah semua makhluk bersujud kepadanya –termasuk malaikat dan iblis. Malaikat langsung bersujud sebagai wujud pengabdian kepada Allah, namun iblis menolak untuk bersujud karena kesombongannya. Iblis dari jenis jin ini mungkin tidak akan terlihat oleh kita, namun sifat-sifat dan karakter iblis yang ada pada manusia itu akan selalu ada, dan bisa jadi lebih berbahaya.

Para politikus itu bisa dengan mudahnya mengatakan akan mengadakan perubahan dalam jangka waktu masa yang singkat dimasa pemerintahannya.. mengadakan perubahan kepada kedaan yang lebih baik.. padahal pada kenyataannya rakyat selalu merasa dizalimi dan disakiti, rakyat selalu merasa kecewa atas pemerintah yang selalu mengumbar janji-janji kosong, dan selalu merasa terinjak-injak ketika dijadikan objek seperti anak tangga untuk dijadikannya pijakan menaiki kursi kekuasaan.. setelah berkuasa rakyat ditekan dan menderita.

__________________________________

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s