Kalau Bukan Kita… Siapa Lagi?!

Entah sudah berapa bulan lamanya gak liat muka blog ini, padahal paling tidak, biasanya.. dalam sehari pastilah ada sedikit waktu luang untuk sekedar browsing, nyari informasi, download software, dan duduk berjam-jam ‘corat-coret’ buat posting di blog. Kesan pertama liat blog ini lagi, buruk sekali. Keliatan gak keurus, maka sekarang saatnya saya barukan lagi, dan saya tulisi lagi.. menulis dengan sedikit kerutan alis di muka dan geram dihati bicarain situasi politik negeri… walau tulisan seadanya dengan tidak banyak dihiasi fakta otentik. Kalau ada hukum sebab-akibat, maka yang banyak saya ketengahkan adalah akibatnya saja😀.

Di tengah aktifitas saya sekarang yang lebih sering bongkar-bongkar komputer orang –tanpa bisa pasang lagi :D–, baca Koran, liat berita-berita segar –segar dengan bahan pengawet yang tak sehat, saya sering duduk termenung, memperhatikan, dan memikirkan suasana bangsa yang “sepertinya” dalam keadaan sakit.. dan butuh pengobatan dokter. Terlebih suasana umat muslimin yang selalu dalam keadaan terjajah, terfitnah dan lemah di bawah cengkraman penguasa “dimana pun mereka berada”.

Saya adalah orang biasa, yang punya impian seperti layaknya semua orang. Seperti orang pada umumnya, saya pun punya sebuah rencana ideal untuk membangun hidup ke arah yang lebih baik. Dan hal itu bisa saja dilakukan jika kita mau berusaha. Namun, hal itu ternyata lebih sulit dan memilukan dari yang telah dibayangkan sebelumnya, yaitu ketika idealisme tersebut dibenturkan kepada sebuah kenyataan bahwa lingkungan masyarakat, bangsa dan negara ini adalah lingkungan dengan sebuah tatanan yang kacau dan rancu!

Sebagian manusia diangkat dengan hormat, lalu sebahagian lain diinjak dengan semena-mena, orang tua bilang.. ini adalah “politik belah bambu”. Bagian besar –saya tidak bilang semua– birokrasi negara diisi oleh para penjahat yang menghisap darah rakyat. Rakyat dibohongi… agar tidak curiga rakyat diberi mainan kecil –seperti BLT– yang akan mengalihkan perhatiannya.. padahal mainannya itu akan rusak binasa dalam tempo yang cepat. Jika mata rakyat terbuka dan menggugat, maka rakyat akan selalu kalah kuat, lalu dipenjarakan.. dipenjarakan pemikirannya, direnggut kebebasan ekspresinya dan dibungkam mulutnya untuk bicara. Apakah itu yang disebut DEMOKRASI??

Yang saya lihat, di Indonesia ini tidak lah mencerminkan sebuah Negara.. namun lebih merefleksikan dirinya sebagai sebuah gelanggang pertarungan antara 2 kasta yang berbeda.. yaitu kasta ksatria (bangsawan) dan kasta sudra (rakyat jelata).. kenyataannya, bisa rakyat lawan birokrasi atau pun pergulatan di panggung pemerintah itu sendiri. Adapun dari golongan ulama –orang yang berilmu—mereka hendak mengambil jalan tengah, ironisnya jalan tengah ini bukanlah berarti menjadi penengah.. namun menyatakan diri sebagai kelompok independent. Kalangan dari kasta brahmana (pendeta) ini selalu menyibukan dirinya dengan berbagai ritual di rumah-rumah ibadah, sebagai simbol pengabdian diri kepada Tuhan dan penyucian diri –padahal yang dicontohkan Rasul adalah membela kaum lemah. Keadaan ini sama persis dengan kondisi dulu, ketika terjadinya fenomena akulturasi kebudayaan yang dibawa Hindu-Buda, dengan pranata sosial masyarakat yang berkasta-kasta.

Bung Karno pernah bilang bahwa Nasionalisme –dengan dasar pemikiran marhaenisme-nya ini adalah sebuah sistem pemerintahan yang merakyat.. padahal kenyataannya? sistem demokrasi ini tidak lah merakyat, tapi hanya bersifat parlementer yang berlaku buat kalangan berdasi saja. Dengan segala kerumitannya mereka ber-apologetik dan men-generalisir kesalahan dan kekacauannya. Maka rakyat kecil tidak akan pernah memahami apa isi demokrasi versi “marhaen” ini.. walaupun isinya hanya belatung busuk dan kebohongan belaka –seperti kebusukan pemerintah orla dan orba.

Lalu saya bertanya pada diri sendiri; apakah saya akan bisa hidup bebas seenak hati, diatas penderitaan saudara-saudara saya sebangsa, seagama dan setubuh..?! apakah saya akan terus mengejar cita-cita dan mimpi, tanpa memikirkan saudara seagama yang keadaannya sangat menyedihkan, bahkan hanya sekedar dalam mempertahankan hidup dan jiwanya..?! apakah saya akan hidup diatas angan-angan kosong? Apakah saya akan bisa hidup dengan damai, padahal saudara saya tengah berjuang dalam peperangan melawan musuh?! Hati ini selalu menjerit melihat penindasan dan pembantaian yang tak kunjung usai. Namun pembantaian pada hakekatnya tidak selalu berwujud pembatantaian fisik seperti yang terjadi pada saudara-saudara kita di Palestin, Priok, Poso dan lainnya… tapi juga pembantaian dan pemandulan karakter dan kebebasan seperti yang terjadi  saat ini. Orang yang menganut faham foundamentalis Islam atau yang memanifestasikan pemikiran Islam kedalam politik, dibunuh dan jegal dengan fitnah!

Sebagian nurani memaksa saya untuk berdiri dan melakukan perlawanan dengan wujud perlawanan yang lebih nyata daripada sekedar doa. Atau dari sekedar memaki-maki orang tanpa kesadaran padahal kita sendiri ber-duduk goyang kaki di atas kursi empuk. Maka, siapa lagi yang akan membela ISLAM ini jika bukan kita sendiri, yang notabene-nya seorang muslim? Pertanyaan itu lebih layak saya ketengahkan daripada mengemukakan sebuah pertanyaan yang tak patut dijawab seperti mempertanyakan siapa yang salah.

Adalah sebuah kenyataan yang tidak bisa dipungkiri, bahwa manusia yang dilahirkan saat ini adalah manusia-manusia kader yang dilahirkan dan dibesarkan di tengah hiruk-pikuk pemerintah yang zhalim. Mengapa saya sebut kader?.. karena tentunya seorang yang melihat ketidak adilan ini berkewajiban untuk merubah dan menghentikannya. Namun hal yang lebih sulit dan harus dipahami adalah bahwa hidup ini ternyata hanya bukan sekedar untuk menyelamatkan diri dari pemerintahan zhalim belaka dan bukan hanya dalam rangka pembebasan atas penindasan saja.. namun lebih jauh dari itu, yaitu manusia itu harus menegakan sebuah tatanan kepemerintahan yang mengatur manusia di atas dua kalimat… “Allah sebagai Illah dan Muhammad sebagai Rasul-Nya”.

Ayat_1_kalau bukan_kita_siapa_lagi!

“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” (QS. Al-Baqarah, 2:30)

Demokrasi itu baik bila dijalankan dengan orang-orang yang “baik”. Tapi yang baik belum tentu benar. Manusia hidup diatas amanah-Nya.. untuk mengaktualisasikan Keadilan-Nya di bumi ini… untuk membuat nyata, dan menerangkan bahwa hanya Hukum Allah lah yang bisa mengatur manusia.. keadilan Allah itu bukan keadilan yang hanya tertulis dalam Al-Quran lalu diakui saja.. namun harus di dhohirkan dan di implementasikan dalam kehidupan… padahal dalam Al-Quran Allah swt selalu mengingatkan untuk ‘menghukumi, memutuskan, dan memusyawarahkan sesuatu berdasarkan Al-Quran dan as-Sunnah… padahal Bumi yang dijadikan pijakan ini adalah milik Allah, tapi mengapa mereka enggan menggunakan aturan-Nya??

Ayat_2_kalau bukan_kita_siapa_lagi!

“Dan sesungguhnya Kami telah mengulang-ulangi bagi manusia dalam Al Quran ini bermacam-macam perumpamaan. Dan manusia adalah makhluk yang paling banyak membantah”. (QS. Al-Kahfi, 18:54)

Apakah dengan menjalani hukum selain hukum Allah kita merasa aman sejahtera? Apakah dengan hidup dalam sistem selain sistem ISLAM kita melihat, mendengar dan merasakan kedamaian?? Semua itu tidak akan pernah bisa… selama manusia bersikukuh membuat hukumnya sendiri… dan menyembah berhala berbentuk SISTEM PEMERINTAHAN.

One thought on “Kalau Bukan Kita… Siapa Lagi?!

  1. gening … saur saha masih enggal ..🙂
    Teraskeun ah ngeBlogna … teu nyangka gaduh wargi enggal deui ..
    Salam kenal n hatur tangkyu😀
    _____________________
    fahm : salam kenal kang…. hatur tengkyu oge tos brkunjung..
    salam ukhuwah..😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s