Sosok Ayah Terbaik

Pertama kali buka “lagi” blog ini ada konsep yang kutulis dulu namun berkali-kali urung di publish. Selain belum selesai, artikel yang dikonsepkan itu terasa berat pertanggungjawaban isinya. Aku berfikir tidak punya kapasitas untuk berbicara tentang sorang ayah…namun, setelah kufikir lagi sekarang justru aku punya posisi yang membuatku pantas berbicara tentang sosok ayah ini, hal itu tidak lain adalah karena aku seorang “anak”!. Aku adalah seorang pembicara dengan presfektif orang kedua, seperti seorang rakyat membicarakan presidennya atau juga seperti seorang prajurit berbicara tentang jendralnya.

Seorang ayah adalah manusia biasa, tidak selalu benar. Tapi seorang ayah punya amanat yang lebih dari manusia biasa, yaitu memimpin keluarga dan menjadi panutan untuk anak-anaknya, mengemban jabatan ke-ayah-an untuk menjaga amanat dari Alloh. Aku dan juga pembaca sekalian sebagai anggota keluarga telah merasakan kemimpinan dari sang ayah ini, karena semua juga pasti pernah merasakan menjadi seorang anak bukan? ok! sebagian kita yang kurang beruntung mungkin ada yang ditinggal ayah dari kecil (saya turut bersedih atas hal itu), tapi sosok ayah itu akan tetap ada walau tidak sedarah. Selalu ada yang menjadi panutan dan pembimbing dalam lingkungan dimana kita hidup.

Bagaimana sih ayah yang baik itu?

Sekali lagi aku nyatakan bahwa aku tidak punya kapasitas untuk menjawab pertanyaan diatas, karena aku belum pernah menjadi seorang ayah😀, namun aku akan menjawab dari prespektif orang kedua, yaitu sebagai penilai atau pemerhati.

Sebelumnya kita harus sepakat terlebih dahulu bahwa baik itu relatif atau hanya sebuah penilaian, baik belum tentu benar, tapi semua yang benar pasti baik..setuju? walau pada dasarnya benar versi manusia itu juga relatif, benar yang hakiki itu hanya milik Allah. Jadi, jika manusia ingin berada pada sebuah kebenaran sejati, maka yang harus menjadi tolok ukur atas semua perbuatannya adalah Al-Qur’an.

1. Perhatian

Wibawa, keras, berprinsip, tegas, kaku, sifat-sifat tersebut yang sering kali menjadi deskripsi seorang ayah. Padahal terkadang ayah itu begitu lembut dan perhatian. Hanya saja berbeda cara pengekspresiannya dengan ibu.

Sudah sejak STM aku sudah merantau, bisa desebut dalam hal mengurus diri sudah mandiri, jarang lama-lama tinggal di rumah, mungkin orang tua pada umumnya akan terbiasa dalam keadaan ini dengan asumsi si anak sudah mandiri. Namun apa yang terjadi, sampai hari ini sudah lebih dari 4 tahun aku keluar sekolah dan bekerja ayah selalu bertanya hal yang sama jika aku pindah ke tempat baru…“bagaimana tidurnya disitu nyaman? makan kemana jauh gak?” Pertanyaan yang familiar bahkan sama percis ketika pertama kali aku pergi sekolah dulu.

Buatku sendiri perhatian dari ayah itu adalah sesuatu yang spesial dan bisa menjadi suplemen penambah semangat hidup. Aku yakin semua ayah perhatian pada anaknya hanya cara pengungkapan saja yang berbeda.

2. Demokratis

The Way of Life atau sebuah prinsip hidup bersifat pribadi dan hak semua orang memilih, mau seperti apa prinsip hidupnya. Namun sering kali ada sifat ke-diktator-an pada diri seorang ayah untuk memaksakan sebuah prinsip pada anaknya. Tapi mungkin hal ini bisa kondisionil tergantung seorang ayah memandang sejauh mana kedewasaan anak dalam memilih jalan hidupnya.

Sudah pasti seorang ayah itu wajib membimbing anaknya dalam hal bagaimana menjalani hidup, namun seiring kedewasaan anak juga akan mencari dan menemukan prinsip hidupnya sendiri dari lingkungannya bersosial, belajar ataupun bekerja.

Satu waktu pernah aku berdebat dan berbeda faham tentang suatu hal yang bersifat prinsip. Singkat cerita ayah hidup dengan prinsip A dan aku prinsip B, Lalu apa yang ayah bilang : “silahkan kamu tetap pada prinsipmu, mungkin jalan bisa berbeda yang penting niat dan tujuan kita baik” Selama lebih dari satu tahun aku berbeda faham dengan ayah, tapi alhamdulillah sekarang ada pada pemahaman yang sama🙂. Bukan sekali dua kali hal seperti ini terjadi, terkadang aku ada pada pihak yang keliru namun juga kadang ayah, yang pada akhirnya kita selalu sependapat.

Kebabanyakan orang menilai ayahku lemah dan tidak tegas kepada anak, padahal menurutku dengan memberikan opsi dan berlaku bijaksana kepada anak perlahan akan menjadikan anak itu mengerti pada akhirnya, itulah yang terjadi padaku pribadi.

3. Bermusyawarah

Selaku anak aku merasa sangat dihargai lebih ketika ayah meminta pendapat tentang sesuatu masalah, atau ketika akan mengambil keputusan penting. Semisal ketika keluarga mendapat kelebihan dalam RAPBN yang belum teralokasikan, maka ayah akan bertanya : “nak, kira2 bagaimana kalau uang ini kita gunakan untuk beli “A”? atau kamu ada pendapat lain, atau mungkin memerlukan uang ini..?”

Aku merasa ayah punya hak prerogatif tersendiri untuk membelanjakan uang yang pada dasarnya hasil usaha dia sendiri, tapi entah mengapa kadang selalu ada pemusyawarahan dahulu dengan keluarga sebelum keputusan itu diambil. Jika keputusan itu bersifat ugent atau bahkan final ayah pasti akan bilang pada akhirnya.

4. Sharing

Ini adalah point terpenting menurutku. Hubungan emosional yang dibangun dengan sebuah kedekatan dan pembicaraan yang intens. Apakah bapak-bapak sekalian merupakan seorang ayah yang akrab dengan anaknya? yang selalu meluangkan waktu untuk bicara atau sekedar ngobrol dengan anak walau sibuk pekerjaan?

Menurutku tidak ada salahnya ketika sang ayah merasa pusing dengan kerjaan lalu dia curhat pada anaknya, begitupun sebaliknya. Selalu ada sebuah forum dialogis antara ayah dan anak disela-sela kesibukan masing-masing. Berbicara tentang apa yang terjadi dilingkungan sekitar, pelajaran yang harus diambil dari berbagai kejadian, ibroh tentang seorang yang sukses, ataupun pembicaraan tentang hal-hal yang ringan.

Kita semua tahu ayah adalah orang dengan segudang kegiatan dalam rangka mencari nafkah untuk keluarga, seorang dengan mobilitas tinggi. Namun tidak sedikit yang karena hal tersebut orang tua melupakan bahwa anak butuh sebuah input dari ayah. Sebuah masukan nasehat atau pemikiran yang harus mengimbangi input dari lingkungan diluar rumah. Tidak sedikit orang tua yang sibuk bekerja karena berfikir mencari uang untuk masa depan anak namun pada akhirnya dia hanya bisa menggaji anaknya, sedang dia tidak mengenal anaknya itu siapa dan seperti apa..?

Semua orang memiliki satu tujuan atau cita-cita di masa depan, termasuk seorang ayah, semua ayah pasti ingin anaknya berhasil dan menjadi kebanggaan keluarga kelak, tapi terkadang apa yang dilakukan saat ini justru menjauhkannya kepada tujuan itu.

***

Artikel ini hanya buah dari apa yang aku lihat, dengar dan rasakan. “Ayah,,,engkau sudah memberi didikan yang cukup sebagai bekal diperjalanan ini….engkau hanya mengantarkanku pada sebahagian jalan, sedang cita-cita itu hanya aku sendiri yang akan menjemputnya….terima kasih ayah”

2 thoughts on “Sosok Ayah Terbaik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s