Shalat Malam : Tarawih, Tahajud atau Qiamullail?

“Rasulullah tidak pernah menambah, baik pada bulan ramadhan ataupun pada bulan lainnya melebihi sebelas rakaat. Beliau melaksanakan shalat empat rakaat, maka jangan kamu tanyakan baik dan panjangnya. Kemudian beliau melaksanakan shalat empat rakaat, maka janganlah kamu tanyakan baik dan panjangnya. Kemudian beliau melaksanakan shalat tiga rakaat. Maka aku (kata Aisyah) bertanya, “Ya Rasulullah, apakah engkau tidur sebelum engkau mengganjilkan? Beliau bersabda, “Wahai Aisyah, sesungguhnya kedua mataku tidur namun jiwaku tidak.”1)

Dari hadits di atas, kiranya dapat ditarik beberapa pengertian :

  1. Shalat yang dilakukan Rasul pada malam hari tidak berbeda ketika pada bulan Ramadhan atau bulan yang lainnya. Perbedaan istilah pada bulan Ramadhan disebut tarawih sementara di luar Ramadhan disebut tahajud adalah pemisahan yang lahir setelah Rasul wafat dan bukan dari teks hadits.
  2. Kata Maakaana yadjiidu yang berarti tidak lebih, tidak dapat diartikan bahwa shalat malam mesti berjumlah sebelas rakaat, akan tetapi boleh saja kurang dari sebelas rakaat. Artinya, angka tersebut bukanlah ukuran sah dan tidaknya shalat malam atau afdhal tidaknya shalat tahajud, melainkan ketarangan tentang tidak tetapnya rakaat shalat yang dilakukan Rasul pada malam hari. Pemahaman ini dapat didukung oleh hadits lain yang menganjurkan untuk melaksanakan shalat ganjil pada malam hari walaupun hanya satu rakaat. 2) Karena jumlah rakaat shalat Rasul sangat tergantung kepada lama dan tidaknya berdiri untuk shalat, sementara waktu yang beliau gunakan untuk shalat malam minimal mencapai satu pertiga malam, menurut ukuran di tanah air Indonesia berarti minimal mencapai emapat jam. Karena itu, meski sedikit jumlah rakaatnya kalau panjang-panjang boleh jadi akan lebih banyak memakan waktu dibanding yang banyak rakaatnya tetapi pendek-pendek, dan yang patut diperhatikan adalah jumlah ganjil (witir). Sebagaimana contoh Rasul, beliau melaksanakan shalat dalam riwayat ini dengan jumlah ganjil yaitu sebelas.
  3. Penamaan tarawih dan tahajud dengan jumlah rakaat yang sama diambil dari hadits di atas yang sebenarnya hadits tersebut tidak menyebutkan kata tahajud tidak pula menyebutkan kata tarawih, sehingga kaum muslimin jangan ragu untuk melaksanakan shalat sunnat pada malam hari, apakah mau diberi nama tahajud, tarawih ataupun qiyamullail. Semuanya adalah sesuai dengan hadits di atas.
  4. Janganlah kamu tanya tentang baik dan panjangnya rakaat tersebut. Kalau kita perhatikan lebih cermat, kata-kata ini memberi arti bahwa Rasulullah saw selalu melaksanakan shalat malam dengan baik dan lama,3) sehingga shalat beliau yang mencapai satu pertiga malam lamanya itu4) hanya cukup sebelas rakaat. Jadi, angka sebelas yang saat ini sering diperdebatkan itu sebenarnya bukan menjelaskan tentang kuantitas rakaat shalat malam, baik yang disebut tahajud atau tarawih, akan tetapi menjelaskan tentang kualitas shalat tersebut. Karena itu, orang yang melaksanakan shalat malam baik yang berjumlah sebelas rakaat atau tidak, kalau dalam setiap rakaatnya hanya membaca tiga sampai sepuluh ayat saja, kiranya perlu ditingkatkan lagi. Kalaulah tidak mampu mendekati apa yang biasa dilaksanakan Rasul, paling tidak ada usaha untuk tidak terlalu jauh dari apa yang dilaksanakan Rasulullah, dan tidak merasa sudah sempurna karena hanya memerhatikan jumlah rakaat semata.
  5. Sekiranya tidak mampu mengikuti cara Rasul dengan melaksanakan shalat yang satu rakaatnya mungkin encapai satu jam, lakukanlah sesuati dengan kemampuan yang ada. Bila seseorang sudah merasa sempurna dengan melaksanakan shala malam karena sama jumlah rakaatnya dengan shalat Rasul dengan tanpa memerhatikan bagaimana Rasul melakukannya, tentu pengkuan tersebut masih perlu diluruskan.5) Karena itu Imam Bukhari ketika menjadi imam shalat malam pada bulan Ramadhan, berbeda dengan ketika ia shalat sendirian. Ketika menjadi imam, beliau sangat perhatian kepada kondisi makmum sehingga beliau melaksanakan shalat malam pada bulan Ramaadhan dengan rakaat yang pendek-pendek namun jumlah rakaatnya jauh lebih banyak dari yang dilakukan Rasulullah saw.6) Oleh karena itu, bila kita pernah menyatakan bid’ah kepada praktik shalat malam karena semata-mata memandang jumlahnya yang kurang atau lebih dari sebelas rakaat, kiranya ada baiknya kita tinjau kembali pernyataan tersebut dan kita teliti secara objektif dan berpalang dada. Kita khawatir menuduh negative kepada orang yang boleh jadi lebih mengerti dan lebih shalih dari kita. Mudah-mudahan Allah limpahkan taufiq dan hidayah-Nya kepada kita semua.
  6. Pernyataan Aisyah “Apakah engkau tidur sebelum engkau mengganjilkan?”. Kalimat ini memberi pengertian bahwa shalat malam jumlahnya ganjil dan Aisyah ingin mengetahui apakah Rasulullah tidur atau tidak sebelum mengganjilkan jumlah rakaat shalat malam. Hal ini memberi pengertian bahwa kata witir (ganjil) adalah sifat jumlah dari shalat malam. Bahkan kata witir dalam hadits di atas berbentuk kata kerja, artinya bukan nama shalat, akan tetapi menerangkan keadaan jumlah shalat.7)
  7. Jawaban Rasulullah; Sesungguhnya kedua mataku tidur dan qalbuku tidak tidur. Kalimat ini sama sekali tidak dapat dijadikan dalil akan pentingnya tidur sebelum shalat malam, sebaliknya, justru memberikan jawaban bahwa tidur ataupun tidak bukanlah masalah bagi orang yang mau melaksanakan shalat malam. Dan praktik shalat malam sebelum tidur sudah biasa dilaksanakan pada malam bulan ramadhan. Shalat ini selalu merujuk kepada hadits yang tidak membedakan antara Ramadhan dengan bulan lainnya, sebagaimana tersebut di atas.

—————————————

  1. Shahih Muslim, Dar Al Ihya Al Turats Al Arabi, Bairut, tt., I:509, Shahih Bukhari, Dar Ibnu Al Katsir, Bairut, 1407. I:385, Nawawi, Riyadhu Al Shalihin, hal . 365, Al Makmun, Jeddah, 1992, dan Sayid Sabiq, Fiqh Al Sunnah, I:173, Dar Al Fikr, Bairut: 1983.
  2.  “Witir adalah hak setiap Muslim, barang siapa yang ingin melaksanakan lima rakaat maka lakukankanlah, barang siapa yang ingin melaksanakannya tiga rakaat maka lakukanlah, dan barang siapa yang ingin melaksanakannya satu rakaat maka lakukanlah” (H.R. empat ahli hadits selain At-Tirmidzi. Lihat Subulussalam Juz 11:8, Maktabah Dahlan Indonesia t.t.)
  3. Rasulullah saw. Bersabda, “Sebaik-baik shalat adalah lama berdiri” (H.R. Muslim)
  4. Lihat Q.S. Al Muzzammil: 1-4
  5. Rasulullah saw. Bersabda, “Shalatlah kamu sebagaimana kamu melihat aku shalat.”
  6. Lihat mabit salafushalih.
  7. Lihat arti tahajjud, qiyamullail, tarawih dan witir pada buku Risalah Shalat Malam.

*Seluruh artikel ini ditulis menurut aslinya, tanpa ada penambahan atau pengurangan yang bersumber dari buku: KH. Saiful Islam Mubarak, Lc. M.Ag., “Cinta, Menggapai Hakikat Mahabtullah” (Hal. 54-68)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s